Senin, 19 September 2011

Dalam Labirin Hatimu

Baru tadi pagi, ketika aku selesai mandi dan bersiap pergi. Aku mematut diri di depan cermin dan memikirkanmu... aku mengenakan gaun merah marun, yang pernah kupakai ketika menemuimu. Lalu aku pergi, dengan harapan tipis yang sama, berharap bisa bertemu denganmu ketika aku memakai baju ini.

Dan seperti keajaiban ketika hatiku seperti telah tahu aku akan bertemu denganmu... aku terkejut di depan pintu... menemukanmu, dengan senyum yang khas... lalu aku tersesat kembali dalam pikiranku...

Aku dan pikiranku kembali berbincang tentangmu... tentang wajahmu yang telah lama tak kulihat dan membuatku hampir kehilangan udara kehidupan, tentang suaramu yang seperti alunan lagu yang telah lama menghilang dari telingaku yang nyaris membuat air kehidupanku mengering...

Bagaimana aku bisa melupakanmu? Bagaimana aku bisa berusaha menemukan kehidupan baruku jika jarakku denganmu kembali tak lebih dari tiga ratus centimeter.

Apa aku akan kembali menyakiti hatiku sendiri dengan terus mencintaimu ?
Apa yang kuinginkan, aku tak tahu dengan jelas saat ini... aku masih dalam keterkejutan... aku masih dalam ketakpercayaan... yang kurasakan dengan jelas adalah perasaan cinta yang ternyata masih bersemayam. aku tak tahu lagi apa yang kuinginkan darimu setelah semua harapan itu kau runtuhkan dengan sangat singkat dan terlalu kejam.

Apa sebenarnya yang sedang Tuhan rencanakan untukku ? Ketika aku mulai berusaha menyembuhkan diri dengan hanya mengingatmu sebagai kenangan, kau kembali memuaskan kehausanku akan kehadiranmu di hidupku...

Kau tahu dengan jelas, apa yang aku harapkan dan aku inginkan darimu, maka dengan alasan apa kau menanyakan itu padaku ?
Kau ingin menghancurkan harapanku lagi ?
Maka tak akan kukatakan... karena aku pun mulai merasa harapanku menjadi maya.

Apa yang akan kau lakukan padaku selanjutnya ?
Aku tahu, kau tahu apa yang kurasakan, tapi kau seperti tak pernah tahu seperti apa rasa sakitnya.
Aku harus menghadapimu dan kembali menjadi aktris dihadapan semua orang.
Kau pun mungkin harus menjadi aktor pendukung dalam skenario yang sama.

Aku... sepertinya akan kembali tersesat di dalam hatimu, aku merasa labirin di hatimu semakin rumit, tak ada jalan keluar untukku... benar-benar tak ada jalan keluar selain terus tersesat di dalamnya. Bahkan tak ada pintu masuk ke dalam jantung labirin hatimu.

Aku harus bagaimana ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar